ORIGINAL PRODUCTION | POP ENTERTAINMENT | CONTACT US | NEWS ARCHIVE | ONLINE BOOKING | HOME

    
       
WEB   TOMMY PRATAMA

2008
2007
2006
2005
2004
2003

 

Original Production, March 21, 2006
URIAH HEEP
Penampilan Keren dengan Sound Paten
Source: AudioPro.co.id

Tommy Pratama bersama Original Production-nya kembali menyuguhkan konser musik Hard Rock berkelas, yaitu Uriah Heep yang merupakan kelompok legendaris era ‘70-an. Konser itu digelar 12 Februari 2006 di Tennis Indoor, Jakarta, yang juga menampilkan band legenda Indonesia, God Bless, sebagai band pembuka.
 


Jum'at, 10 Maret 2006

Band asal Inggris yang ngetop di sini lewat lagu Come Away Melinda dan July Morning itu baru saja meluncurkan paket CD dan DVD Anniversary 35 tahun karier mereka. Mereka datang ke Indonesia dengan formasi Mick Box (gitar), Bernie Shawn (vokal), Trevor Bolder (bass), Phil Lanzon (keyboard), dan Lee Kerslake (drum).

Melodia Sound & Lighting sudah selesai menyiapkan seluruh sistem tata suara dan lighting sejak H-1. Awalnya, sistem line array MILO yang ditemani subwoofer 700HP buatan Meyer Sound digantung lebih rendah. Pasalnya, diprediksi Uriah Heep tidak akan mendatangkan penonton sebanyak pada konser Deep Purple, Scorpion, maupun Toto. Namun, ternyata sound yang dihasilkan kurang bisa memuaskan tim engineer yang terdiri dari Tony Subarkah, Eko Edi Sugiarto, dan Asril. Maka, mereka sepakat untuk menggantung MILO menjadi sedikit lebih tinggi. Tony Subarkah pun kembali harus melakukan setting adjustment untuk time alignment dan sebagainya. Ternyata hasilnya memang lebih baik dan relatif bisa lebih "rata" dalam meng-cover area VVIP serta tribun.

Sound Engineer Wanita
Waktu mengetahui sound engineer konser Uriah Heep adalah seorang wanita, semua rekan engineer yang ada di Tennis Indoor menjadi sangat tertarik. Ini membuat kita jadi lebih memperhatikan kinerja seorang sound engineer wanita yang notebene adalah cerita baru dalam dunia profesional audio, walaupun sejujurnya ada sedikit tanda tanya dalam hati apakah ini cuma sekadar sensasi atau Charlotte Evans (sang engineer wanita itu) memang cukup kompeten.

Sepanjang menyiapkan peralatan di panggung, Charlotte terlihat sangat energik dan turut banyak membantu kru Uriah Heep. Mulai dari membongkar peralatan dari dalam hard case hingga memasang stand mikrofon dan menempatkannya pada drum serta kabinet gitar. Seluruh mikrofon yang digunakan adalah buatan Shure.

Beres di panggung, Charlotte mulai merambah FOH tempat mixer Midas Heritage 3000. Charlotte tidak banyak melakukan koreksi atas setting yang sebelumnya dilakukan Tony Subarkah. Dia hanya ingin melakukan sedikit adjustment saja melalui ekualiser. Ketika Tony Subarkah mempersilakannya pada sebuah ekualiser Grafik buatan Meyer Sound, Charlotte angkat tangan. Dia hanya mau melakukan adjustment dengan sebuah ekualiser grafik. Seketika itu juga disiapkan sebuah ekualiser grafik 1/3 Oktaf buatan Ashley. Koreksi yang dilakukan Charlotte hanya pada dua atau tiga frekuensi saja di area mid hi dan mid low. Hebatnya, dia melakukannya tanpa bantuan RTA, laptop, atau sejenisnya. Tapi hanya melalui sebuah CD musik dan mendengarkannya sambil berjalan setengah berlari mengitari area penonton. Hanya butuh waktu sekitar setengah hingga hampir satu jam, setting adjustment sudah selesai. Charlotte menyatakan dia lebih menyukai ekualiser grafik ketimbang parametrik. Alasannya, pada ekualiser grafik dia bisa langsung melihat frekuensi yang mesti di-"mainkan" tanpa harus memutar knob seperti pada EQ parametric.

Showtime
God Bless muncul sekitar pukul delapan malam. Lagu Bla Bla Bla dipilih sebagai nomor perdana. Pilihan yang tepat karena intro keyboard Abadi Soesman terdengar megah. Dilanjutkan dengan lagu Kehidupan dan beberapa lagu God Bless lainnya. Sayangnya, sinyal keyboard Abadi Soesman di tengah lagu mulai terdengar tidak clear dan sering clip di sistem speaker sebelah kiri. Itu karena Bung Asril (sound engineer God Bless saat itu-red) mem-PAN keyboard ke kiri dan gitar Ian Antono ke kanan. Maka, hanya pada speaker kirilah kadang terdengar suara cliping bersamaan dengan solo-solo yang dimainkan Abadi Soesman.

Bunyi kick drum Gilang Ramadhan juga terdengar kurang fokus. Ketika A-Pro konfirmasikan ke Bung Asril, beliau bilang cenderung sulit untuk mendapatkan sound kick nge-rock yang tight kalau skin depan kick drum tidak diberi lubang. "Karena saya tidak bisa menempatkan mikrofon di dalam shell kick drum. Apalagi kick drum Gilang adalah 24 inci," ujarnya. Ini membuat sound deep dari kick drum jadi makin tidak cocok dengan kendala akustik ruangan Tennis Indoor yang sudah memberi “bonus” gaung di sesi fekuensi rendah. Selebihnya, God Bless tampil relatif cukup baik. Hanya vokal Ahmad Albar saja yang saat itu sepertinya mengalami banyak penurunan stamina. Beruntung koor dari Ian Antono, Donny Fatah, dan Abadi Soesman bisa banyak menutup celah itu.

Meledak
Usai God Bless perform hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk membongkar peralatan God Bless dan menyiapkan peralatan Uriah Heep. Kemudian, satu per satu personel Uriah Heep muncul di panggung dan memberi hormat.

Begitu lagu pertama diluncurkan. Greng! Tennis Indoor seperti "meledak"! Performa seluruh sistem audio langsung berada di titik klimaks. SPL mendadak berada di titik tertinggi. Jauh lebih tinggi dibanding ketika God Bless manggung. A-Pro yang memang berada di FOH langsung melirik ke seluruh LED meter pada mixer Midas Heritage di FOH yang digawangi Charlotte Evans. Tak satu pun LED meter yang menunjukkan warna merah. Salut! Angkat topi! Dua jempol untuk Charlotte Evans yang berhasil menyajikan sound Rock yang ‘perkasa’. Hebatnya lagi, bunyi menggelegar dari MILO dan subwoofer 700HP itu tak membuat kuping sakit. Semua range frekuensi seperti berada pada porsi yang sangat tepat. Kick drum yang deep & tight senada dengan bass. Yang paling mencengangkan adalah sound gitar Mick Box yang keren abis. Jauh lebih menggelegar, lebih detail, lebih tebal, dan lebih mewakili sound gitar rock sebenarnya. Apa rahasianya? Padahal, Mick Box dalam tur dunianya hanya membawa gitar, pedal board, serta sebuah ampli gitar akustik yang kecil. Sehingga untuk konsernya malam itu, Melodia Sound yang harus menyediakan dua ampli Marshall (JCM900 SLX dan JCM900 Dual Reverb) beserta empat cabinet 1960A. Mick Box juga tidak menggunakan wireless. Dia menggunakan kabel yang dipegangi dengan sangat setia oleh guitar tech-nya selama konser berlangsung. Namun, soundnya? Sempurna jek !

Pelajaran Teramat Berharga
Waktu pertama kali A-Pro melihat daftar perangkat yang diminta Uriah Heep sebelum kedatangan mereka ke Jakarta, kami sempat tidak tertarik. Sepertinya tidak ada yang istimewa. Bahkan terkesan “lucu”. Sebuah band legenda asal Inggris yang melakukan tur dunia, tapi sama sekali tidak membawa amplifier instrument. Bahkan, drum juga disediakan oleh PT Citra Intirama. Nah lho! Padahal kalau kelompok Dewa, Padi, atau Peterpan konser, pasti mereka membawa seabrek peralatan. Tapi malam itu A-Pro memetik banyak pelajaran teramat berharga. Sehingga A-Pro sangat setuju bahwa sound yang superior lebih banyak ditentukan oleh si musisi itu sendiri, bukan peralatannya. Satu lagi, simple is perfect!

ALL RIGHTS RESERVED