|
|
Original
Production, March 21, 2006
URIAH HEEP
Penampilan Keren dengan Sound Paten
Source: AudioPro.co.id

Tommy Pratama bersama Original
Production-nya kembali menyuguhkan konser musik Hard Rock berkelas,
yaitu Uriah Heep yang merupakan kelompok legendaris era ‘70-an.
Konser itu digelar 12 Februari 2006 di Tennis Indoor, Jakarta, yang
juga menampilkan band legenda Indonesia, God Bless, sebagai band
pembuka.
Jum'at, 10 Maret 2006
Band asal Inggris yang ngetop di sini lewat lagu Come Away Melinda
dan July Morning itu baru saja meluncurkan paket CD dan DVD
Anniversary 35 tahun karier mereka. Mereka datang ke Indonesia
dengan formasi Mick Box (gitar), Bernie Shawn (vokal), Trevor Bolder
(bass), Phil Lanzon (keyboard), dan Lee Kerslake (drum).
Melodia Sound & Lighting sudah selesai menyiapkan seluruh sistem
tata suara dan lighting sejak H-1. Awalnya, sistem line array MILO
yang ditemani subwoofer 700HP buatan Meyer Sound digantung lebih
rendah. Pasalnya, diprediksi Uriah Heep tidak akan mendatangkan
penonton sebanyak pada konser Deep Purple, Scorpion, maupun Toto.
Namun, ternyata sound yang dihasilkan kurang bisa memuaskan tim
engineer yang terdiri dari Tony Subarkah, Eko Edi Sugiarto, dan
Asril. Maka, mereka sepakat untuk menggantung MILO menjadi sedikit
lebih tinggi. Tony Subarkah pun kembali harus melakukan setting
adjustment untuk time alignment dan sebagainya. Ternyata hasilnya
memang lebih baik dan relatif bisa lebih "rata" dalam meng-cover
area VVIP serta tribun.
Sound Engineer Wanita
Waktu mengetahui sound engineer konser Uriah Heep adalah seorang
wanita, semua rekan engineer yang ada di Tennis Indoor menjadi
sangat tertarik. Ini membuat kita jadi lebih memperhatikan kinerja
seorang sound engineer wanita yang notebene adalah cerita baru dalam
dunia profesional audio, walaupun sejujurnya ada sedikit tanda tanya
dalam hati apakah ini cuma sekadar sensasi atau Charlotte Evans
(sang engineer wanita itu) memang cukup kompeten.
Sepanjang menyiapkan peralatan di panggung, Charlotte terlihat
sangat energik dan turut banyak membantu kru Uriah Heep. Mulai dari
membongkar peralatan dari dalam hard case hingga memasang stand
mikrofon dan menempatkannya pada drum serta kabinet gitar. Seluruh
mikrofon yang digunakan adalah buatan Shure.
Beres di panggung, Charlotte mulai merambah FOH tempat mixer Midas
Heritage 3000. Charlotte tidak banyak melakukan koreksi atas setting
yang sebelumnya dilakukan Tony Subarkah. Dia hanya ingin melakukan
sedikit adjustment saja melalui ekualiser. Ketika Tony Subarkah
mempersilakannya pada sebuah ekualiser Grafik buatan Meyer Sound,
Charlotte angkat tangan. Dia hanya mau melakukan adjustment dengan
sebuah ekualiser grafik. Seketika itu juga disiapkan sebuah
ekualiser grafik 1/3 Oktaf buatan Ashley. Koreksi yang dilakukan
Charlotte hanya pada dua atau tiga frekuensi saja di area mid hi dan
mid low. Hebatnya, dia melakukannya tanpa bantuan RTA, laptop, atau
sejenisnya. Tapi hanya melalui sebuah CD musik dan mendengarkannya
sambil berjalan setengah berlari mengitari area penonton. Hanya
butuh waktu sekitar setengah hingga hampir satu jam, setting
adjustment sudah selesai. Charlotte menyatakan dia lebih menyukai
ekualiser grafik ketimbang parametrik. Alasannya, pada ekualiser
grafik dia bisa langsung melihat frekuensi yang mesti di-"mainkan"
tanpa harus memutar knob seperti pada EQ parametric.
Showtime
God Bless muncul sekitar pukul delapan malam. Lagu Bla Bla Bla
dipilih sebagai nomor perdana. Pilihan yang tepat karena intro
keyboard Abadi Soesman terdengar megah. Dilanjutkan dengan lagu
Kehidupan dan beberapa lagu God Bless lainnya. Sayangnya, sinyal
keyboard Abadi Soesman di tengah lagu mulai terdengar tidak clear
dan sering clip di sistem speaker sebelah kiri. Itu karena Bung
Asril (sound engineer God Bless saat itu-red) mem-PAN keyboard ke
kiri dan gitar Ian Antono ke kanan. Maka, hanya pada speaker kirilah
kadang terdengar suara cliping bersamaan dengan solo-solo yang
dimainkan Abadi Soesman.
Bunyi kick drum Gilang Ramadhan juga terdengar kurang fokus. Ketika
A-Pro konfirmasikan ke Bung Asril, beliau bilang cenderung sulit
untuk mendapatkan sound kick nge-rock yang tight kalau skin depan
kick drum tidak diberi lubang. "Karena saya tidak bisa menempatkan
mikrofon di dalam shell kick drum. Apalagi kick drum Gilang adalah
24 inci," ujarnya. Ini membuat sound deep dari kick drum jadi makin
tidak cocok dengan kendala akustik ruangan Tennis Indoor yang sudah
memberi “bonus” gaung di sesi fekuensi rendah. Selebihnya, God Bless
tampil relatif cukup baik. Hanya vokal Ahmad Albar saja yang saat
itu sepertinya mengalami banyak penurunan stamina. Beruntung koor
dari Ian Antono, Donny Fatah, dan Abadi Soesman bisa banyak menutup
celah itu.
Meledak
Usai God Bless perform hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam
untuk membongkar peralatan God Bless dan menyiapkan peralatan Uriah
Heep. Kemudian, satu per satu personel Uriah Heep muncul di panggung
dan memberi hormat.
Begitu lagu pertama diluncurkan. Greng! Tennis Indoor seperti "meledak"!
Performa seluruh sistem audio langsung berada di titik klimaks. SPL
mendadak berada di titik tertinggi. Jauh lebih tinggi dibanding
ketika God Bless manggung. A-Pro yang memang berada di FOH langsung
melirik ke seluruh LED meter pada mixer Midas Heritage di FOH yang
digawangi Charlotte Evans. Tak satu pun LED meter yang menunjukkan
warna merah. Salut! Angkat topi! Dua jempol untuk Charlotte Evans
yang berhasil menyajikan sound Rock yang ‘perkasa’. Hebatnya lagi,
bunyi menggelegar dari MILO dan subwoofer 700HP itu tak membuat
kuping sakit. Semua range frekuensi seperti berada pada porsi yang
sangat tepat. Kick drum yang deep & tight senada dengan bass. Yang
paling mencengangkan adalah sound gitar Mick Box yang keren abis.
Jauh lebih menggelegar, lebih detail, lebih tebal, dan lebih
mewakili sound gitar rock sebenarnya. Apa rahasianya? Padahal, Mick
Box dalam tur dunianya hanya membawa gitar, pedal board, serta
sebuah ampli gitar akustik yang kecil. Sehingga untuk konsernya
malam itu, Melodia Sound yang harus menyediakan dua ampli Marshall
(JCM900 SLX dan JCM900 Dual Reverb) beserta empat cabinet 1960A.
Mick Box juga tidak menggunakan wireless. Dia menggunakan kabel yang
dipegangi dengan sangat setia oleh guitar tech-nya selama konser
berlangsung. Namun, soundnya? Sempurna jek !
Pelajaran Teramat Berharga
Waktu pertama kali A-Pro melihat daftar perangkat yang diminta Uriah
Heep sebelum kedatangan mereka ke Jakarta, kami sempat tidak
tertarik. Sepertinya tidak ada yang istimewa. Bahkan terkesan “lucu”.
Sebuah band legenda asal Inggris yang melakukan tur dunia, tapi sama
sekali tidak membawa amplifier instrument. Bahkan, drum juga
disediakan oleh PT Citra Intirama. Nah lho! Padahal kalau kelompok
Dewa, Padi, atau Peterpan konser, pasti mereka membawa seabrek
peralatan. Tapi malam itu A-Pro memetik banyak pelajaran teramat
berharga. Sehingga A-Pro sangat setuju bahwa sound yang superior
lebih banyak ditentukan oleh si musisi itu sendiri, bukan
peralatannya. Satu lagi, simple is perfect! |