ORIGINAL PRODUCTION | POP ENTERTAINMENT | CONTACT US | NEWS ARCHIVE | ONLINE BOOKING | HOME

    
       
WEB   TOMMY PRATAMA

2008
2007
2006
2005
2004
2003

 

Original Production, June 15, 2006
TOTO World Tour 2006
Source audiopro.co.id


Untuk ketiga kalinya, band legendaris Toto ‘berani’ menggelar konser di Indonesia. Tentunya sangat menarik menyaksikan atraksi band yang kemampuan para personilnya bisa dikatakan di atas rata-rata.

Jum'at, 9 Juni 2006

Berkat Tommy Pratama dan Original Production-nya, band yang lagu-lagu lamanya cukup akrab di telinga pencinta musik di tanah air, akhirnya kembali hadir di sini. Bosen? Tidak juga! Walaupun tidak full penonton, tapi konser yang diadakan di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) tanggal 14 Mei lalu itu tidak bisa dikatakan sepi penonton. Paling tidak, konser itu dihadiri sekitar 3000 penonton. Hanya memang tidak terlihat, karena kapasitas tampung JCC yang jauh lebih besar.

Sekali lagi, Tommy Pratama boleh mendapat acungan jempol. Karena tetap berani menggelar konser tanpa sponsor utama dan minim publikasi. Show must go on! Dan 3000 orang pengunjung pun sudah bisa dikatakan lebih dari sekedar memadai. Walaupun rencananya, konser Toto digelar di dua kota, tapi sayang hanya konser di Jakarta saja yang tetap berlangsung. Dan di Surabaya, batal.
Untuk sebuah band dengan sejarah karier yang sangat panjang, Toto terbilang hebat. Karena mereka mampu tetap eksis di antara gempuran band muda pendatang baru. Toto bahkan baru saja merilis album baru ‘Falling in Between’ yang bernuansa progresif. Dan Toto hadir dengan formasi Steve Lukather (gitar, vokal), Bobby Kimbal (vokal), Mike Porcaro (bass), Simon Phillips (drum), dan pendatang baru, Greg Philinganges (keyboard, vokal), serta seorang additional gitaris yang terlihat lebih banyak mengambil posisi backing vocal.

Sistem Audio
Di banyak konser yang digelarnya, Original Production kerapkali bekerja sama dengan Melodia Sound & Lighting. Hubungan erat itu masih berlanjut hingga kini. Ketika pihak Melodia dikonfirmasi oleh A-Pro, seminggu sebelum konser Toto, mereka menyatakan akan tampil all out pada konser Toto kali ini. Persiapan yang dilakukan adalah dengan menyiapkan hampir seluruh sistem speaker mereka untuk konser Toto. Seperti kita ketahui, Meodia memiliki sangat banyak speaker Line Array Meyer M3D + Sub, Meyer MILO + Sub 700HP, serta Meyer M2D. Semua itu akan digotong ke JCC. Termasuk dua buah mixer analog hi-end Yamaha PM5000 dan Midas Heritage 3000. Sayangnya, ketika akan memasang seluruh sistemnya, pihak JCC hanya mengizinkan beban tertentu saja yang di-rigging (digantung). Sedangkan lainnya harus di-ground stack.

Kendala-kendala seperti inilah yang kadang membuat para peminat dan pemerhati pro audio dalam negeri harus sangat memaklumi situasinya. Ada banyak keterbatasan, bahkan di kota besar Jakarta yang sudah serba maju itu, kita masih harus berbenturan dengan beberapa aturan yang akhirnya membuat kita harus ‘mengalah’. Akan tetapi kalau tujuannya demi keamanan, semuanya boleh saja. Semoga tidak perlu lagi ada pertanyaan, Lho, kok Line Array di-ground stack sih?! Ndak boleh itu..

Seperti yang pernah ‘ramai’ dibahas di milis A-Pro beberapa waktu lalu. Show must go on! Jadi, maklumlah saudara-saudara!

Karena keterbatasan beban yang boleh digantung itulah, maka akhirnya hanya ada 6 boks saja yang boleh digantung di setiap titik. Jadilah 6 boks Meyer M3D yang diletakan per sisi. Sehingga yang harusnya ada 10 boks yang digantung, maka kini 4 boks lagi harus di-ground stack, persis di bawah rigging kiri dan kanan. Jadi, sekali lagi, mohon maklum.

Dalam menggantung sistem utamanya, sound engineer, Eko Edi Sugiarto, yang ditunjuk oleh Melodia sebagai chief engineer itu mengarahkan speaker kiri dan kanan sedemikian rupa. Speaker kanan lebih diarahkan ke kiri, sedangkan speaker kiri lebih diarahkan ke kanan. Menurut Eko, ini untuk lebih mengoptimalkan coverage di area tengah penonton. Selain itu, demi meminimalkan energi speaker yang terbuang percuma. Karena menurut Eko, jarak antara FOH (Front of House) sedikit lebih dekat daripada jarak idealnya.

Untuk meng-cover area yang sangat dekat dengan panggung, dipasanglah sebanyak 4 buah Meyer M2D di bibir panggung. "Ini hanya untuk meng-cover penonton yang berada di barisan paling depan saja," kata Eko.

Tidak tanggung-tanggung, Melodia menurunkan hampir seluruh subwoofernya untuk menggeber JCC. Sebanyak total 16 boks subwoofer Meyer Sound yang terdiri dari 8 M3D Sub dan 8 buah Meyer 700HP dipasang secara mono. Seluruh sistem dipasang sehari sebelumnya dan sama sekali tidak ditemukan kendala yang berarti.

Untuk sistem instrumen Toto, sama sekali tidak ada perubahan dengan sistem yang mereka gunakan di konser mereka sebelumnya di Tennis Indoor. Hanya ada tambahan drum ‘mungil’ yang moveable saja untuk session Toto tampil akustik. Selebihnya, sama. Keyboard dan bass menggunakan sistem direct to mixer (tanpa amplifikasi). Steve (gitaris) tetap menggunakan sistem rack dan tiga buah kabinet speaker 212 yang di-miking dengan mikrofon condenser, Shure KSM. Dari ketiga kabinet yang digunakan Steve Lukather, hanya yang di tengah saja yang selalu aktif. Sedangkan dua lainnya untuk efek. Dan hanya berbunyi, ketika Steve Lukather memainkan efek.

Soundcheck
Soundcheck dilakukan sekitar pukul 15.00WIB. Satu per satu personel Toto muncul. Mereka mulai memegang instrumen masing-masing dan sedikit genjrang-genjreng. Steve Lukather ketika memainkan gitar dan cek mikrofon, sistem yang audio yang terpasang. Air mukanya terlihat sangat gembira. Dan mulailah mereka memainkan intro lagu Black Sabbath ‘Iron Man’ versi fals. Makin fals, makin terbahak-bahaklah Steve Lukather. Sepertinya, bukan hal yang penting untuk diceritakan. Akan tetapi paling tidak, itu cukup menggambarkan kegembiraan mereka dengan performa audio secara keseluruhan. Beberapa kali Steve Lukather meminta level seluruh sistem monitor panggung sedikit diturunkan. Dari dua kali melakukan liputan konser Toto, A-Pro dapat menyimpulkan bahwa Steve Lukather adalah yang paling ‘vokal’ dan cukup ‘cerewet’ untuk seluruh detail sound system. Bahkan di liputan konser Tennis Indoor tahun lalu, A-Pro sempat ‘ditegur’ oleh Steve Lukather hanya karena beliau ‘BT’ dengan efeknya yang sempat ngadat waktu soundcheck. Akan tetapi kali ini dia tidak melontarkan satu komplain pun. Hanya bercanda dengan sound gitarnya, dan soundcheck pun dimulai.

"Wow, it’s so easy"! Teriak pemain keyboard Toto kala soundcheck beres dilakukan. Bagaimana tidak, semuanya berjalan begitu mudah. Mainkan lagu pertama untuk soundcheck. Beres! Mainkan lagu kedua, kali ini Steve Lukather yang nyanyi sambil memainkan gitar akustik. Beres juga! Tak ada yang istimewa! Tak ada komplain! Tak ada permintaan apapun. Hanya lighting engineer yang meminta Toto mengulang lagu pertama untuk menyesuaikan setting tata lampunya. Kali ini, beres juga. Ya, segampang dan semudah itu. Sementara sound yang A-Pro dengarkan di venue, sangat clear clear clear! Hal ini membuat A-Pro terkesima. Langsung A-Pro menghubungi beberapa rekan penikmat audio hi-end dan car audio, lalu memaksa mereka untuk datang ke konser Toto. Tujuan A-Pro hanya satu, meminta ‘pendapat’ dari mereka untuk performa audio di konser ini. Karena mereka tidak mengetuahi persis tentang merek sistem speaker yang dipasang. Tak kenal satupun sound company Indonesia. Mereka hanya penggila audio hi-end.

Show
Show dimulai 30 menit mundur dari jadwal semula. Penonton sudah mulai memenuhi JCC. Penonton yang di area festival ternyata jauh lebih banyak daripada VIP. Lampu mulai redup, beberapa bayangan berlari dari belakang panggung, dan mengambil posisi di atas panggung. Ya! Mereka adalah personil Toto yang mengambil posisi masing-masing. Lagu ‘Falling in Between’ meluncur perdana. Lighting mulai berpendar dan terlihatlah seluruh personil Toto. Soundnya? Luar biasa! Ini adalah peforma audio terbaik yang pernah A-Pro dengar. Meskipun ini bukan kali pertama mendengarkan Meyer M3D dan Yamaha PM5000. Juga bukan pertama kali, A-Pro menonton konser band luar di JCC. Bukan juga pertama kali menyaksikan Toto. Akan tetapi ini adalah pertama kali A-Pro mendengar sistem pro audio negeri sendiri yang bisa sangat berhasil memunculkan detail bunyi dengan clarity menawan. Bahkan subwoofer pun bisa terdengar begitu detail, me-repro setiap nada dan tone yang dimainkan Mike Porcaro, sang pemain bass.

Hal mengagumkan lainnya adalah, sound drum Simon Philips yang begitu ‘Big’ dengan nuansa yang sangat ‘Wide’. Maaf posisi A-Pro menonton konser ini adalah tepat di depan FOH. Sehingga dapat merasakan nuansa stereo secara lebih optimal. Beberapa A-Pro coba memejamkan mata untuk lebih menikmati detail dan clarity yang disajikan sound system ini.

Permainan musisi Toto sebenarnya cukup istimewa. Hanya, Bobby Kimball memang harus beberapa keli menyerah pada staminanya. Kerapkali A-Pro harus ‘mencari’ lengkingan suaranya di antara alunan bebunyian alat musik. Itu pasti karena power Bobby Kimball sudah tidak lagi sehebat di lagu-lagu awal. Beruntung FOH engineer berupaya membuat suara Bobby Kimball tetap berada pada ‘mix’ yang benar.

Penonton terlihat sangat puas untuk konser Toto kali ini. Karena juga bisa menikmati beberapa hits lama Toto yang disajikan semi akustik dan secara medley.

Konser ini ditutup dengan lagu “Africa” yang memang sedari awal pertunjukan sudah diteriakkan oleh banyak penonton di JCC.
Usai konser, A-Pro dan teman-teman sangat puas untuk performa Toto dan sistem audionya. Giliran A-Pro meminta pendapat dari rekan yang pencinta audio hi-end. Apa katanya?

“Apa semua konser memang menyajikan sound sebagus ini? Begitu clear, semua instrumen terdengar jelas dengan tone yang solid. Saya seperti sedang mendengarkan CD dengan volume yang sangat besar.” Pendapat yang kurang detail memang, tapi cukuplah untuk seorang yang awam untuk dunia pro audio.>>ADZ

ALL RIGHTS RESERVED