|
|
Original Production, June 15, 2006
TOTO World Tour 2006
Source audiopro.co.id
  
Untuk ketiga kalinya, band
legendaris Toto ‘berani’ menggelar konser di Indonesia. Tentunya
sangat menarik menyaksikan atraksi band yang kemampuan para
personilnya bisa dikatakan di atas rata-rata.
Jum'at, 9 Juni 2006
Berkat Tommy Pratama dan Original Production-nya, band yang
lagu-lagu lamanya cukup akrab di telinga pencinta musik di tanah
air, akhirnya kembali hadir di sini. Bosen? Tidak juga! Walaupun
tidak full penonton, tapi konser yang diadakan di Plenary Hall,
Jakarta Convention Center (JCC) tanggal 14 Mei lalu itu tidak bisa
dikatakan sepi penonton. Paling tidak, konser itu dihadiri sekitar
3000 penonton. Hanya memang tidak terlihat, karena kapasitas tampung
JCC yang jauh lebih besar.
Sekali lagi, Tommy Pratama boleh mendapat acungan jempol. Karena
tetap berani menggelar konser tanpa sponsor utama dan minim
publikasi. Show must go on! Dan 3000 orang pengunjung pun sudah bisa
dikatakan lebih dari sekedar memadai. Walaupun rencananya, konser
Toto digelar di dua kota, tapi sayang hanya konser di Jakarta saja
yang tetap berlangsung. Dan di Surabaya, batal.
Untuk sebuah band dengan sejarah karier yang sangat panjang, Toto
terbilang hebat. Karena mereka mampu tetap eksis di antara gempuran
band muda pendatang baru. Toto bahkan baru saja merilis album baru
‘Falling in Between’ yang bernuansa progresif. Dan Toto hadir dengan
formasi Steve Lukather (gitar, vokal), Bobby Kimbal (vokal), Mike
Porcaro (bass), Simon Phillips (drum), dan pendatang baru, Greg
Philinganges (keyboard, vokal), serta seorang additional gitaris
yang terlihat lebih banyak mengambil posisi backing vocal.
Sistem Audio
Di banyak konser yang digelarnya, Original Production kerapkali
bekerja sama dengan Melodia Sound & Lighting. Hubungan erat itu
masih berlanjut hingga kini. Ketika pihak Melodia dikonfirmasi oleh
A-Pro, seminggu sebelum konser Toto, mereka menyatakan akan tampil
all out pada konser Toto kali ini. Persiapan yang dilakukan adalah
dengan menyiapkan hampir seluruh sistem speaker mereka untuk konser
Toto. Seperti kita ketahui, Meodia memiliki sangat banyak speaker
Line Array Meyer M3D + Sub, Meyer MILO + Sub 700HP, serta Meyer M2D.
Semua itu akan digotong ke JCC. Termasuk dua buah mixer analog
hi-end Yamaha PM5000 dan Midas Heritage 3000. Sayangnya, ketika akan
memasang seluruh sistemnya, pihak JCC hanya mengizinkan beban
tertentu saja yang di-rigging (digantung). Sedangkan lainnya harus
di-ground stack.
Kendala-kendala seperti inilah yang kadang membuat para peminat dan
pemerhati pro audio dalam negeri harus sangat memaklumi situasinya.
Ada banyak keterbatasan, bahkan di kota besar Jakarta yang sudah
serba maju itu, kita masih harus berbenturan dengan beberapa aturan
yang akhirnya membuat kita harus ‘mengalah’. Akan tetapi kalau
tujuannya demi keamanan, semuanya boleh saja. Semoga tidak perlu
lagi ada pertanyaan, Lho, kok Line Array di-ground stack sih?! Ndak
boleh itu..
Seperti yang pernah ‘ramai’ dibahas di milis A-Pro beberapa waktu
lalu. Show must go on! Jadi, maklumlah saudara-saudara!
Karena keterbatasan beban yang boleh digantung itulah, maka akhirnya
hanya ada 6 boks saja yang boleh digantung di setiap titik. Jadilah
6 boks Meyer M3D yang diletakan per sisi. Sehingga yang harusnya ada
10 boks yang digantung, maka kini 4 boks lagi harus di-ground stack,
persis di bawah rigging kiri dan kanan. Jadi, sekali lagi, mohon
maklum.
Dalam menggantung sistem utamanya, sound engineer, Eko Edi Sugiarto,
yang ditunjuk oleh Melodia sebagai chief engineer itu mengarahkan
speaker kiri dan kanan sedemikian rupa. Speaker kanan lebih
diarahkan ke kiri, sedangkan speaker kiri lebih diarahkan ke kanan.
Menurut Eko, ini untuk lebih mengoptimalkan coverage di area tengah
penonton. Selain itu, demi meminimalkan energi speaker yang terbuang
percuma. Karena menurut Eko, jarak antara FOH (Front of House)
sedikit lebih dekat daripada jarak idealnya.
Untuk meng-cover area yang sangat dekat dengan panggung, dipasanglah
sebanyak 4 buah Meyer M2D di bibir panggung. "Ini hanya untuk meng-cover
penonton yang berada di barisan paling depan saja," kata Eko.
Tidak tanggung-tanggung, Melodia menurunkan hampir seluruh
subwoofernya untuk menggeber JCC. Sebanyak total 16 boks subwoofer
Meyer Sound yang terdiri dari 8 M3D Sub dan 8 buah Meyer 700HP
dipasang secara mono. Seluruh sistem dipasang sehari sebelumnya dan
sama sekali tidak ditemukan kendala yang berarti.
Untuk sistem instrumen Toto, sama sekali tidak ada perubahan dengan
sistem yang mereka gunakan di konser mereka sebelumnya di Tennis
Indoor. Hanya ada tambahan drum ‘mungil’ yang moveable saja untuk
session Toto tampil akustik. Selebihnya, sama. Keyboard dan bass
menggunakan sistem direct to mixer (tanpa amplifikasi). Steve (gitaris)
tetap menggunakan sistem rack dan tiga buah kabinet speaker 212 yang
di-miking dengan mikrofon condenser, Shure KSM. Dari ketiga kabinet
yang digunakan Steve Lukather, hanya yang di tengah saja yang selalu
aktif. Sedangkan dua lainnya untuk efek. Dan hanya berbunyi, ketika
Steve Lukather memainkan efek.
Soundcheck
Soundcheck dilakukan sekitar pukul 15.00WIB. Satu per satu personel
Toto muncul. Mereka mulai memegang instrumen masing-masing dan
sedikit genjrang-genjreng. Steve Lukather ketika memainkan gitar dan
cek mikrofon, sistem yang audio yang terpasang. Air mukanya terlihat
sangat gembira. Dan mulailah mereka memainkan intro lagu Black
Sabbath ‘Iron Man’ versi fals. Makin fals, makin terbahak-bahaklah
Steve Lukather. Sepertinya, bukan hal yang penting untuk diceritakan.
Akan tetapi paling tidak, itu cukup menggambarkan kegembiraan mereka
dengan performa audio secara keseluruhan. Beberapa kali Steve
Lukather meminta level seluruh sistem monitor panggung sedikit
diturunkan. Dari dua kali melakukan liputan konser Toto, A-Pro dapat
menyimpulkan bahwa Steve Lukather adalah yang paling ‘vokal’ dan
cukup ‘cerewet’ untuk seluruh detail sound system. Bahkan di liputan
konser Tennis Indoor tahun lalu, A-Pro sempat ‘ditegur’ oleh Steve
Lukather hanya karena beliau ‘BT’ dengan efeknya yang sempat ngadat
waktu soundcheck. Akan tetapi kali ini dia tidak melontarkan satu
komplain pun. Hanya bercanda dengan sound gitarnya, dan soundcheck
pun dimulai.
"Wow, it’s so easy"! Teriak pemain keyboard Toto kala soundcheck
beres dilakukan. Bagaimana tidak, semuanya berjalan begitu mudah.
Mainkan lagu pertama untuk soundcheck. Beres! Mainkan lagu kedua,
kali ini Steve Lukather yang nyanyi sambil memainkan gitar akustik.
Beres juga! Tak ada yang istimewa! Tak ada komplain! Tak ada
permintaan apapun. Hanya lighting engineer yang meminta Toto
mengulang lagu pertama untuk menyesuaikan setting tata lampunya.
Kali ini, beres juga. Ya, segampang dan semudah itu. Sementara sound
yang A-Pro dengarkan di venue, sangat clear clear clear! Hal ini
membuat A-Pro terkesima. Langsung A-Pro menghubungi beberapa rekan
penikmat audio hi-end dan car audio, lalu memaksa mereka untuk
datang ke konser Toto. Tujuan A-Pro hanya satu, meminta ‘pendapat’
dari mereka untuk performa audio di konser ini. Karena mereka tidak
mengetuahi persis tentang merek sistem speaker yang dipasang. Tak
kenal satupun sound company Indonesia. Mereka hanya penggila audio
hi-end.
Show
Show dimulai 30 menit mundur dari jadwal semula. Penonton sudah
mulai memenuhi JCC. Penonton yang di area festival ternyata jauh
lebih banyak daripada VIP. Lampu mulai redup, beberapa bayangan
berlari dari belakang panggung, dan mengambil posisi di atas
panggung. Ya! Mereka adalah personil Toto yang mengambil posisi
masing-masing. Lagu ‘Falling in Between’ meluncur perdana. Lighting
mulai berpendar dan terlihatlah seluruh personil Toto. Soundnya?
Luar biasa! Ini adalah peforma audio terbaik yang pernah A-Pro
dengar. Meskipun ini bukan kali pertama mendengarkan Meyer M3D dan
Yamaha PM5000. Juga bukan pertama kali, A-Pro menonton konser band
luar di JCC. Bukan juga pertama kali menyaksikan Toto. Akan tetapi
ini adalah pertama kali A-Pro mendengar sistem pro audio negeri
sendiri yang bisa sangat berhasil memunculkan detail bunyi dengan
clarity menawan. Bahkan subwoofer pun bisa terdengar begitu detail,
me-repro setiap nada dan tone yang dimainkan Mike Porcaro, sang
pemain bass.
Hal mengagumkan lainnya adalah, sound drum Simon Philips yang begitu
‘Big’ dengan nuansa yang sangat ‘Wide’. Maaf posisi A-Pro menonton
konser ini adalah tepat di depan FOH. Sehingga dapat merasakan
nuansa stereo secara lebih optimal. Beberapa A-Pro coba memejamkan
mata untuk lebih menikmati detail dan clarity yang disajikan sound
system ini.
Permainan musisi Toto sebenarnya cukup istimewa. Hanya, Bobby
Kimball memang harus beberapa keli menyerah pada staminanya.
Kerapkali A-Pro harus ‘mencari’ lengkingan suaranya di antara alunan
bebunyian alat musik. Itu pasti karena power Bobby Kimball sudah
tidak lagi sehebat di lagu-lagu awal. Beruntung FOH engineer
berupaya membuat suara Bobby Kimball tetap berada pada ‘mix’ yang
benar.
Penonton terlihat sangat puas untuk konser Toto kali ini. Karena
juga bisa menikmati beberapa hits lama Toto yang disajikan semi
akustik dan secara medley.
Konser ini ditutup dengan lagu “Africa” yang memang sedari awal
pertunjukan sudah diteriakkan oleh banyak penonton di JCC.
Usai konser, A-Pro dan teman-teman sangat puas untuk performa Toto
dan sistem audionya. Giliran A-Pro meminta pendapat dari rekan yang
pencinta audio hi-end. Apa katanya?
“Apa semua konser memang menyajikan sound sebagus ini? Begitu clear,
semua instrumen terdengar jelas dengan tone yang solid. Saya seperti
sedang mendengarkan CD dengan volume yang sangat besar.” Pendapat
yang kurang detail memang, tapi cukuplah untuk seorang yang awam
untuk dunia pro audio.>>ADZ |